• Sab. Jul 20th, 2024

Tangani Banjir Rob Dki, Basuki Senggol Anies Dengan Telak

ByWira

Jun 13, 2022

Jakarta, mediakota-online.com
Jakarta Utara adalah salah satu kawasan yang paling parah terkena dampak banjir rob. Bicara soal banjir, maka kita tidak bisa lupa dengan janji Anies yang seolah menggampangkan penanganannya. Programnya terdengar hebat. Naturalisasi sungai, sumur resapan, drainase vertikal, air tidak boleh dialirkan ke laut tapi harus disuruh masuk ke dalam tanah.

Parahnya, dengan masa jabatan yang hanya tinggal beberapa bulan lagi, Anies gagal total tangani banjir. Naturalisasi sungai tidak ada kabar. Sumur resapan gagal, dan bikin jelek jalanan. Air disuruh antre ke tanah, tapi tidak mungkin bisa. Tetap saja harus dialirkan ke laut. Untuk menahan serangan kritikan, maka Anies menyebut banjir itu sebagai tempat parkir air.

Terkait penanganan banjir rob di Sunda Kelapa, Jakarta Utara, ini sudah dilakukan pengerjaan oleh Kementerian PUPR.

Kementerian PUPR Ditjen Sumber Daya Air melalui Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) telah melakukan penanganan darurat banjir rob di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara dengan menggunakan geobox sebagai tanggul untuk mencegah terulangnya banjir yang meluap dari air laut yang pasang.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono secara tidak langsung memberikan sindiran dan setilan kepada Pemprov DKI. Basuki menyebut saat ini pemerintah berupaya untuk menyelesaikan masalah banjir di berbagai wilayah di Indonesia.

“Kalau bencana alam memang saya nggak lihat Provinsinya atau Kabupaten. Seperti rob di Sunda Kelapa itu, itu harusnya tugas DKI tapi saya tangani itu pak,” kata dia. Jakarta merupakan Ibu Kota Negara, jadi semua pihak bertanggung jawab.

Karena selama ini program atasi banjir hanya sampul luar yang kelihatan cantik dan menarik, tapi isi di dalamnya kosong melompong.

Miris ya mendengar ucapan Pak Basuki. Seolah DKI Jakarta tidak punya pemimpin dan berjalan sendiri secara autopilot. Ada masalah besar dan urgent, terpaksa pemerintah pusat yang turun tangan. Dalam beberapa kesempatan, Anies sering angkat tangan dan meminta bantuan pusat. Sebenarnya itu adalah bentuk kemalasan dalam menyelesaikan masalah. Mau enaknya saja dan terima bersih. Kabur dari masalah, tapi doyan penghargaan.

Selama ini Anies hanya tebar pesona dengan narasi dan kalimat-kalimat yang sangat menggugah kesadaran dan nalar. Dia ini orator ulung. Jago memilih kata-kata yang manis untuk memainkan emosi publik. Coba tonton deh video usai Formula E sukses. Narasinya sangat bombastis seolah dia sudah menyelamatkan muka seluruh Indonesia. Seolah Indonesia berhasil berkat dia.

Banjir yang sangat penting untuk diatasi, tapi dianggap tidak serius. Maklum saja, Anies lebih mementingkan JIS dan Formula E. Commitment fee yang sebesar Rp 560 miliar sangat keterlaluan banyaknya. Padahal itu sudah lebih dari cukup untuk program penanganan banjir.

Pak Basuki sepertinya ingin menyentil secara halus. Harusnya tampar saja dengan telak biar tersentak dan terkejut. Gubernurnya sibuk koleksi dan hitung piagam penghargaan. Dia juga sibuk membanggakan WTP dari BPK. Mungkin juag dia sedang terlena dengan pujian terkait suksesnya penyelenggaraan Formula E.

Jangan lupa, dulu sewaktu normalisasi sungai mau dilanjutkan, tapi terkendala pembebasan lahan. Ini adalah tanggung jawab Pemprov DKI. Tapi sayangnya tidak ada keseriusan. Bahkan Kementerian PUPR pernah menyindir soal ini.

Tapi sang gubernur terlalu keras kepala dan tidak mau introspeksi. Jadinya ya beginilah kondisi Jakarta sekarang. Gubernurnya sibuk pencitraan, sibuk memoles diri. Malah wakil gubernur yang pontang-panting menjadi jubir dan mengklarifikasi berbagai isu.

Beberapa waktu lalu wagub DKI pernah meminta kepada warga untuk menggunakan tumpukan karung pasir dan batu untuk menghadang limpahan air laut yang meluap sambil menunggu tanggul raksasa siap.

Ini namanya kerja senyap dan diam. Sedikir kerja. Tidak ada hasil apa pun. Tau-tau langsung keluar penghargaan yang siap dipamerkan di medsos dan bikin pendukungnya menangis sambil joget India.

Kalau diingat-ingat, memang sungguh keterlaluan sekali. Hampir lima tahun, penanganan banjir tidak signifikan. Hanya modal gerebek lumpur, air diberi tempat parkir, sumur resapan, buku panduan banjir, toa peringatan banjir, alat ukur curah hujan. (Benn)

By Wira