Tambun — mediakota-online.com
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi salah satu prioritas bantuan bagi pelajar di Kabupaten Bekasi kembali menuai sorotan. Hingga awal Desember ini, hampir seluruh Sekolah Dasar (SD) sekitar 60℅ di wilayah Tambun Utara dilaporkan belum menerima program tersebut, sementara siswa SMP dan SMA di wilayah sama justru telah merasakan manfaatnya.
Ketimpangan penyaluran ini membuat para orang tua murid SD merasa kecewa dan bingung. Mereka mempertanyakan alasan keterlambatan, sekaligus menyoroti minimnya komunikasi dari pihak Koordinator Kecamatan (Korcam) /MBG Tambun Utara (yofa)
Orang Tua Keluhkan Minimnya Informasi dari Korcam(yofa)
Berbagai keluhan muncul dari orang tua murid yang merasa seolah-olah siswa SD di Tambun Utara “dikesampingkan”. Sejumlah orang tua menuturkan bahwa pihak sekolah tidak dapat memberikan jawaban pasti karena instruksi dari kecamatan pun belum jelas.
> “Makan bergizi gratis sampai sekarang belum ada buat anak SD. Kami tanya sekolah, jawabnya belum ada arahan. Kenapa SMP dan SMA sudah jalan, tapi SD belum? Ada apa dengan korcam MBG Tambun Utara?”
— Ujar salah satu wali murid SD Negeri di Tambun Utara.
Orang tua lainnya mengatakan bantuan tersebut sangat dibutuhkan karena banyak siswa SD berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan, sehingga program MBG dapat sangat membantu asupan gizi harian anak.
> “Anak SD itu masih masa pertumbuhan, makan bergizi itu penting sekali. Kalau menunggu terlalu lama, dampaknya ke kesehatan anak. Kami hanya minta kejelasan, bukan janji,” kata seorang ibu rumah tangga di Desa Sriamur.
SMP dan SMA Justru Sudah Terlayani
Di sisi lain, berbeda dengan jenjang SD, siswa SMP dan SMA di Tambun Utara disebut sudah mulai menerima program MBG secara bertahap. Beberapa sekolah melaporkan telah melakukan pembagian makanan bergizi beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir.
Kondisi ini menambah tanda tanya besar masyarakat. Mereka mempertanyakan mengapa sistem pendistribusian MBG tidak serentak per jenjang pendidikan.
Beberapa tokoh masyarakat menyebut perbedaan ini mengindikasikan adanya ketidakteraturan koordinasi antara pihak kecamatan/korcam dan sekolah-sekolah dasar.
Pihak Sekolah: “Kami Menunggu Instruksi Resmi”
Ketika dikonfirmasi, sejumlah kepala sekolah SD di Tambun Utara menyatakan bahwa mereka belum menerima arahan, baik terkait teknis pendistribusian maupun jadwal penyaluran MBG.
Menurut mereka, sekolah tidak dapat mengambil tindakan tanpa instruksi resmi dari korcam atau pihak kabupaten.
> “Kami hanya bisa menunggu. Tidak ada pemberitahuan kapan distribusi MBG dilakukan untuk SD,” ujar seorang kepala SD yang enggan disebutkan namanya.
Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa komunikasi internal program MBG tidak berjalan maksimal.
Desakan Warga: Perlu Transparansi dan Penjelasan Resmi
Berlarut-larutnya ketidakjelasan membuat warga meminta pemerintah kecamatan dan kabupaten segera memberikan penjelasan terbuka kepada publik.
Masyarakat menilai bahwa transparansi menjadi hal penting agar tidak muncul spekulasi negatif, termasuk dugaan penyimpangan atau salah urus.
Beberapa poin yang diminta warga adalah:
1. Kapan penyaluran MBG untuk SD dimulai?
2. Apa penyebab keterlambatan khusus SD?
3. Apakah anggaran untuk SD kecil sehingga di abaikan
4. Bagaimana mekanisme distribusi yang seharusnya?
5. Mengapa penyaluran di SMP dan SMA bisa berjalan lebih dulu?
Menurut warga, program MBG mestinya diprioritaskan untuk siswa SD karena mereka adalah kelompok usia yang paling membutuhkan dukungan gizi harian.
Menanti Respons Korcam dan Pemkab Bekasi
Hingga berita ini ditulis, Korcam MBG Tambun Utara belum memberikan pernyataan resmi terkait persoalan ini. Sementara itu, masyarakat berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk memastikan distribusi MBG berjalan adil, tepat waktu, dan merata bagi seluruh jenjang pendidikan—terutama SD.
Program makan bergizi gratis sejatinya bertujuan mengatasi kerentanan gizi, meningkatkan kualitas kesehatan, serta mendorong semangat belajar anak. Karena itu, penundaan penyalurannya dikhawatirkan memberikan dampak jangka panjang bagi siswa SD di Tambun Utara.
Warga kini menunggu langkah tegas pemerintah setempat untuk memberikan kejelasan dan memastikan tidak ada lagi ketimpangan dalam pelaksanaan program yang membawa nama “bergizi” namun dianggap belum berpihak pada seluruh anak.
[Deden]
