JAKARTA, — MEDIA KOTA
Keluarga besar alumni SMT Penerbangan Jakarta kembali mempertemukan lintas generasi dalam kegiatan reuni yang dirangkai dengan diskusi terbuka mengenai perkembangan Air Urban Mobility, Electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL), Advanced Air Mobility (AAM), serta Autonomous Aerial Vehicle (AAV).
Kegiatan yang berlangsung di Paviliun Teuku Cik Ditiro No. 84, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (3/10/2026), tidak sekadar menjadi ajang nostalgia dan silaturahmi. Pertemuan tersebut berkembang menjadi ruang bertukar gagasan mengenai transformasi teknologi penerbangan, kebutuhan kompetensi baru, perkembangan industri, keselamatan, regulasi, hingga peluang terbentuknya ekosistem mobilitas udara masa depan di Indonesia.
Pertemuan lintas generasi itu mempertemukan pengalaman para alumni penerbangan dengan perspektif generasi baru yang tumbuh di tengah perkembangan digitalisasi, elektrifikasi, otomatisasi, artificial intelligence (AI), sistem navigasi modern, serta berbagai teknologi penerbangan generasi berikutnya.
Inisiator kegiatan sekaligus Ketua Umum DPP Himpunan Mandala Perkasa, Achmad Fadillah, menekankan bahwa reuni seharusnya tidak berhenti pada kegiatan mengenang masa lalu.
Menurutnya, reuni dapat menjadi momentum untuk membaca perubahan zaman sekaligus mempersiapkan langkah menuju masa depan.
“Reuni tidak cukup hanya menjadi nostalgia. Reuni harus menjadi ruang pertemuan gagasan, teknologi, talenta, dan masa depan,” demikian semangat yang dibawa dalam pertemuan tersebut.
Pengalaman para alumni SMT Penerbangan, lanjutnya, merupakan aset pengetahuan yang dapat terus dikembangkan melalui jejaring profesional, mentoring, pendidikan, diskusi, riset, inovasi, serta kerja sama lintas sektor.
Karena itu, pembahasan mengenai AAM, eVTOL, dan AAV dipandang sebagai salah satu pintu masuk untuk mempertemukan kompetensi penerbangan konvensional dengan kebutuhan teknologi baru.
Dengan demikian, para alumni tidak hanya menjadi saksi perubahan industri penerbangan, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam proses pembelajaran dan pengembangan ekosistem penerbangan masa depan secara profesional, terukur, dan bertanggung jawab.
Dari Aircraft Menuju Ekosistem Mobilitas Udara
Perubahan yang berlangsung dalam industri penerbangan pada dasarnya bukan hanya menyangkut perubahan bentuk kendaraan udara. Transformasi tersebut juga menyentuh keseluruhan ekosistem mobilitas.
Kehadiran eVTOL, sistem elektrifikasi, otomatisasi, artificial intelligence, sensor, navigasi digital, komunikasi, sistem kendali penerbangan, serta teknologi pengolahan data membawa dunia penerbangan menuju lingkungan operasional yang semakin terintegrasi.
Kendaraan udara masa depan tidak dapat berdiri sendiri. Pengoperasiannya membutuhkan dukungan berbagai komponen, mulai dari vertiport, sumber energi, sistem pemeliharaan, jaringan komunikasi, navigasi, pengelolaan ruang udara, sistem keselamatan, cybersecurity, regulasi, sumber daya manusia, pembiayaan, hingga model bisnis yang sesuai.
Karena itu, pembahasan mengenai masa depan penerbangan perlu bergerak dari sekadar membicarakan aircraft menuju pembahasan mengenai ekosistem.
Perspektif tersebut menjadi salah satu gagasan yang ingin dibangun dalam forum alumni SMT Penerbangan Jakarta, sehingga setiap perkembangan teknologi dapat ditempatkan dalam kerangka keselamatan, kelayakan, kesiapan teknologi, serta kebutuhan masyarakat.
Air Urban Mobility dan Tantangan Kota Besar
Air Urban Mobility menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian karena perkembangan kota-kota besar menghadirkan tantangan mobilitas yang semakin kompleks.
Kepadatan penduduk, meningkatnya aktivitas ekonomi, kebutuhan konektivitas antarkawasan, keterbatasan ruang darat, serta tuntutan efisiensi perjalanan mendorong munculnya gagasan mengenai pemanfaatan ruang udara sebagai bagian dari sistem transportasi masa depan.
Konsep tersebut bukan berarti menggantikan seluruh moda transportasi darat. Sebaliknya, mobilitas udara dapat dikaji sebagai salah satu komponen tambahan dalam sistem transportasi yang terintegrasi.
Konektivitas antara kawasan permukiman, pusat bisnis, bandar udara, kawasan industri, pusat logistik, fasilitas kesehatan, kawasan pariwisata, hingga simpul-simpul transportasi menjadi sejumlah aspek yang dapat diteliti dan dikembangkan.
Namun, seluruh kemungkinan tersebut tetap membutuhkan kajian menyeluruh terkait keselamatan, tata ruang, regulasi, energi, infrastruktur, biaya operasional, penerimaan publik, dampak lingkungan, serta kesiapan sumber daya manusia.
eVTOL dan Kebutuhan Kompetensi Baru
Teknologi eVTOL juga menjadi bagian penting dalam diskusi karena mempertemukan berbagai disiplin ilmu dan profesi dalam satu sistem penerbangan yang kompleks.
eVTOL bukan sekadar pesawat yang menggunakan tenaga listrik dan mampu melakukan vertical take-off and landing. Teknologi tersebut merupakan integrasi antara electric propulsion, battery technology, avionics, flight control, navigation, communication, software, sensor, cybersecurity, maintenance, artificial intelligence, dan sistem keselamatan penerbangan.
Perkembangan ini secara langsung melahirkan kebutuhan terhadap kompetensi baru, sekaligus mempertahankan kompetensi dasar yang selama ini menjadi fondasi dunia penerbangan.
Bagi komunitas alumni SMT Penerbangan, kondisi tersebut membuka ruang untuk membicarakan bagaimana pengalaman pilot, teknisi, engineer, instruktur, operator, akademisi, regulator, dan profesional lainnya dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan industri yang semakin terdigitalisasi.
Transformasi teknologi, dengan demikian, perlu berjalan beriringan dengan transformasi sumber daya manusia.
AAM Membutuhkan Pendekatan Lintas Sektor
Konsep Advanced Air Mobility (AAM) memperluas pembahasan dari teknologi kendaraan menuju sistem mobilitas yang lebih komprehensif.
AAM tidak cukup dipahami berdasarkan kemampuan sebuah aircraft untuk terbang. Konsep ini harus dilihat melalui hubungan antara kendaraan, vertiport, ruang udara, energi, pengguna, pusat kegiatan ekonomi, sistem transportasi yang sudah tersedia, teknologi digital, regulasi, keselamatan, serta model operasional.
Kesiapan AAM membutuhkan pendekatan lintas disiplin yang melibatkan sektor penerbangan, transportasi, teknologi informasi, energi, tata kota, hukum, ekonomi, keselamatan, lingkungan, serta pengembangan sumber daya manusia.
Pertanyaan mengenai kemampuan teknis harus berjalan beriringan dengan pertanyaan mengenai sertifikasi, pengawasan, operasional, pemeliharaan, pembiayaan, hingga penerimaan masyarakat.
Forum alumni SMT Penerbangan diharapkan dapat menjadi ruang awal untuk membicarakan seluruh dimensi tersebut secara terbuka, kritis, dan berdasarkan pengalaman praktis.
AAV dan Masa Depan Otomatisasi Penerbangan
Sementara itu, pembahasan mengenai Autonomous Aerial Vehicle (AAV) membawa diskusi menuju perkembangan otomatisasi penerbangan dan pemanfaatan artificial intelligence dalam sistem udara.
Teknologi autonomous berpotensi mengubah cara kendaraan udara dikendalikan, dinavigasikan, dipantau, dan diintegrasikan ke dalam jaringan operasi.
Namun, kemampuan teknologi tersebut harus dibicarakan bersama dengan aspek keselamatan, sertifikasi, pengujian, cybersecurity, human factors, komunikasi, pengawasan, emergency procedures, serta akuntabilitas.
Sistem autonomous bukan semata-mata persoalan apakah sebuah mesin mampu melakukan penerbangan tanpa kendali manusia secara langsung. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana manusia merancang sistem tersebut, menentukan batas operasional, melakukan pengawasan, melakukan intervensi ketika diperlukan, serta menetapkan pihak yang bertanggung jawab terhadap setiap keputusan operasional.
Dengan pendekatan tersebut, perkembangan AAV dapat ditempatkan dalam kerangka keselamatan penerbangan yang tetap menghubungkan manusia, prosedur, teknologi, dan regulasi.
SDM Tetap Menjadi Kunci
Di balik seluruh perkembangan teknologi tersebut terdapat satu faktor yang tidak dapat digantikan begitu saja, yakni sumber daya manusia.
Industri penerbangan masa depan membutuhkan kombinasi antara kompetensi klasik penerbangan dan kompetensi teknologi baru.
Pengetahuan mengenai operasi penerbangan, maintenance, navigasi, keselamatan, human factors, regulasi, manajemen risiko, serta prosedur operasional tetap menjadi fondasi penting.
Pada saat yang sama, kebutuhan terhadap software engineering, data science, artificial intelligence, robotics, cybersecurity, battery technology, electric propulsion, remote operation, system integration, dan digital infrastructure semakin berkembang.
Perubahan tersebut membuka peluang bagi institusi pendidikan, organisasi profesi, komunitas alumni, dunia usaha, lembaga penelitian, dan generasi muda untuk membangun program peningkatan kompetensi secara berkelanjutan.
Dalam konteks inilah alumni SMT Penerbangan memiliki ruang strategis untuk menghubungkan pengalaman masa lalu dengan kebutuhan kompetensi masa depan.
Mempertemukan Lintas Generasi
Achmad Fadillah menilai, salah satu kekuatan utama reuni tersebut adalah pertemuan antargenerasi.
Alumni senior memiliki pengalaman panjang dalam dunia penerbangan yang diperoleh melalui pendidikan, pekerjaan, operasi, disiplin keselamatan, serta perjalanan profesi selama bertahun-tahun.
Sementara generasi yang lebih muda hadir dengan perspektif baru mengenai teknologi digital, artificial intelligence, otomatisasi, media, komunikasi, kewirausahaan, serta perkembangan industri global.
Apabila kedua perspektif tersebut dipertemukan secara konstruktif, reuni dapat berkembang menjadi ruang transfer pengetahuan yang memberikan manfaat jangka panjang.
Mentoring, forum keahlian, diskusi teknis, pelatihan, pemetaan kompetensi alumni, riset bersama, pengembangan inovasi, serta jejaring profesional dapat menjadi bentuk lanjutan yang memungkinkan.
Dengan demikian, hubungan antargenerasi tidak hanya dipertahankan melalui hubungan sosial, tetapi juga dikembangkan menjadi jaringan pengetahuan dan kolaborasi.
Membangun Inovasi Secara Bertahap dan Bertanggung Jawab
DPP Himpunan Mandala Perkasa menempatkan forum tersebut sebagai ruang untuk memulai percakapan dan membuka kemungkinan kolaborasi, bukan sebagai deklarasi bahwa seluruh teknologi Air Urban Mobility, eVTOL, AAM, maupun AAV telah siap diterapkan di Indonesia.
Setiap gagasan tetap membutuhkan kajian menyeluruh mengenai aspek teknis, keselamatan, regulasi, ekonomi, energi, tata ruang, infrastruktur, pembiayaan, lingkungan, serta penerimaan masyarakat.
Pendekatan bertahap dinilai penting agar inovasi tidak berjalan lebih cepat daripada kesiapan sistem keselamatan dan regulasi.
Karena itu, sejumlah kemungkinan seperti forum diskusi berkelanjutan, pemetaan kompetensi alumni, pengembangan pusat pengetahuan, kerja sama dengan institusi pendidikan, hubungan dengan industri, penelitian, pelatihan, hingga kemungkinan pilot project dapat dibicarakan lebih lanjut berdasarkan kebutuhan dan kelayakan.
Prinsip utamanya adalah membangun inovasi dengan pendekatan yang terukur, profesional, bertanggung jawab, dan berorientasi pada keselamatan.
Reuni Sebagai Titik Awal
Reuni SMT Penerbangan Jakarta pada akhirnya membawa dua dimensi yang saling melengkapi, yaitu merawat persaudaraan dan membaca perubahan zaman.
Masa lalu memberikan pengalaman, disiplin, identitas, dan pengetahuan yang menjadi fondasi perjalanan para alumni. Sementara masa depan menuntut kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan memahami perkembangan teknologi.
Di antara keduanya terdapat generasi alumni yang memiliki kesempatan untuk membangun jembatan.
Dari perspektif tersebut, pertemuan di Jakarta tidak hanya dapat dilihat sebagai agenda berkumpulnya para alumnus, tetapi juga sebagai ruang dialog mengenai bagaimana pengalaman pendidikan dan profesi penerbangan Indonesia tetap relevan ketika teknologi membawa dunia menuju paradigma mobilitas udara yang baru.
Pesan utama yang hendak dibawa dari forum tersebut adalah bahwa pengalaman harus diubah menjadi pengetahuan, pengetahuan dikembangkan menjadi gagasan, gagasan diuji melalui inovasi, dan inovasi diarahkan menjadi karya yang memberikan manfaat.
Semangat tersebut menjadi energi baru bagi keluarga besar SMT Penerbangan Jakarta untuk melihat reuni sebagai sebuah titik awal, bukan titik akhir.
Generasi terdahulu tidak harus meninggalkan fondasi yang telah dibangun, sementara generasi baru tidak harus memulai semuanya dari nol. Keduanya dapat bertemu melalui transfer pengetahuan, pengembangan kompetensi, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi lintas generasi.
Dengan cara tersebut, pengalaman pendidikan penerbangan yang telah membentuk banyak profesional dapat terus memiliki relevansi ketika industri bergerak menuju elektrifikasi, otomatisasi, artificial intelligence, autonomous systems, dan berbagai bentuk mobilitas udara baru yang masih terus berkembang.
Reuni SMT Penerbangan Jakarta dan Diskusi Terbuka mengenai Air Urban Mobility, eVTOL, AAM, dan AAV pada Sabtu, 3 Oktober 2026, di Paviliun Teuku Cik Ditiro No. 84, Menteng, Jakarta Pusat, diharapkan menjadi ruang terbuka bagi alumni, praktisi, profesional, akademisi, pelaku industri, generasi muda, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan penerbangan dan mobilitas udara untuk bertukar perspektif.
Pertemuan tersebut bukan dimaksudkan untuk memberikan kesimpulan akhir terhadap seluruh perkembangan teknologi, melainkan membuka ruang pembelajaran dan dialog yang dapat dilanjutkan dalam berbagai bentuk.
Dari sebuah reuni, percakapan baru dimulai. Dari percakapan, gagasan dipertukarkan. Dari gagasan, kemungkinan kolaborasi dikaji. Dan dari kolaborasi yang dilakukan secara profesional, aman, terukur, serta bertanggung jawab, berbagai kemungkinan mengenai masa depan penerbangan Indonesia dapat dikembangkan lebih lanjut.
[Hasan Himmah]
