• Kam. Apr 23rd, 2026

MEDIA KOTA Online

Sarana Informasi Rakyat

Tantangan Pengangguran di Tanah Bumbu: Perbedaan Data BPS dan Disnakertrans Jadi Sorotan

ByWira

Jan 18, 2025

Tanah Bumbu, Mediakota-online.com

Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, yang dikenal sebagai salah satu daerah kaya tambang, kini menghadapi tantangan serius terkait pengangguran. Masalah ini diperumit dengan adanya perbedaan signifikan antara data pengangguran yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans). Perbedaan ini memicu diskusi panas tentang akurasi data dan dampaknya terhadap kebijakan publik.

 

Ketimpangan Data Pengangguran

Menurut BPS, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Tanah Bumbu mencapai 6,37 persen per Agustus 2024. Angka ini menjadikan Tanah Bumbu sebagai kabupaten dengan tingkat pengangguran tertinggi kedua di Kalimantan Selatan, setelah Banjarmasin. Data BPS ini dihasilkan dari survei skala provinsi yang mewakili keseluruhan wilayah, namun kurang merepresentasikan kondisi spesifik di tingkat lokal.

 

Sementara itu, Disnakertrans Tanah Bumbu mencatat jumlah pengangguran hanya sekitar 2.000–3.000 orang, berdasarkan laporan administratif dari desa dan kecamatan. Perbedaan mencolok ini menunjukkan bahwa kedua data tidak dapat dibandingkan langsung karena metode pengumpulan yang berbeda.

 

Dampak pada Kebijakan Publik

Ketidaksesuaian data ini berdampak besar pada arah kebijakan publik. Data BPS yang menunjukkan angka pengangguran tinggi dapat mendorong alokasi anggaran pada sektor yang kurang sesuai dengan kebutuhan lokal. Sebaliknya, data Disnakertrans yang lebih rendah cenderung menurunkan urgensi program pemberantasan pengangguran, seperti pelatihan kerja atau job fair.

 

Kesenjangan Sosial dan Rekrutmen Tambang

Masalah pengangguran di Tanah Bumbu juga diperparah oleh kebijakan perusahaan tambang yang lebih banyak merekrut tenaga kerja dari luar daerah untuk posisi strategis. Minimnya transparansi dalam proses rekrutmen menimbulkan ketidakpuasan sosial di kalangan masyarakat lokal, yang merasa tidak menikmati hasil kekayaan daerahnya.

 

Langkah Solutif untuk Pengangguran

Berbagai langkah strategis diperlukan untuk mengatasi permasalahan ini, di antaranya:

 

Integrasi Data: Pemerintah daerah perlu menyinergikan data BPS dan Disnakertrans melalui validasi bersama, guna menghasilkan data yang akurat dan komprehensif.

Peningkatan Pendidikan Vokasi: Mengadakan pelatihan kerja berbasis kebutuhan industri tambang untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal.

Kebijakan Pro-Lokal: Membuat regulasi yang mengutamakan perekrutan tenaga kerja lokal dengan insentif bagi perusahaan yang mematuhi kebijakan ini.

Transparansi Rekrutmen: Mendorong perusahaan membuka seleksi kerja yang adil dan inklusif bagi masyarakat setempat.

Harapan untuk Tanah Bumbu

Tingkat pengangguran yang mencapai 6,37 persen adalah pengingat akan perlunya kerja sama erat antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Dengan kebijakan yang mendukung tenaga kerja lokal, transparansi, dan peningkatan keterampilan, diharapkan pengangguran di Tanah Bumbu dapat berkurang.

 

Tanah Bumbu memiliki potensi besar, tidak hanya dari sumber daya alam, tetapi juga sumber daya manusia. Sinergi semua pihak dapat mengubah tantangan menjadi peluang, mewujudkan kesejahteraan dan keadilan ekonomi bagi masyarakat lokal.”(Mhl/Hallion )

By Wira