• Sab. Jan 31st, 2026

MEDIA KOTA Online

Sarana Informasi Rakyat

Oleh Irfan Arif, SH Ketua Harian DPP LEMBAKUM ANAK NEGRI dan Ketua LBH GIAN WAPIMRED Media kota

Foto yang diunggah Om Zein, Bupati Purwakarta, bukan sekadar gambar perjalanan tugas.

Itu adalah potret paling jujur dari seorang pemimpin: KDM, berdiri dengan mata basah, tak kuasa menahan haru saat ratusan warga Sumatera mengerubungi helikopter bantuan.

 

Anak-anak memandangnya dengan tatapan lapar, ibu-ibu memeluknya sambil memohon, para ayah menyodorkan tangan berdebu untuk sekadar berterima kasih.

Dan KDM, setelah menyalurkan bantuan, mundur beberapa langkah menuju heli

lalu pecahlah air mata itu.

 

Tetapi apa komentar sebagian orang?

Bukan rasa simpati, bukan apresiasi,

melainkan:

“Ini tangisan pencitraan.”

“Gubernur konten.”

 

Beginilah negeri ini bekerja:

ketika hati yang tersentuh dianggap sandiwara,

ketika aksi di lapangan dianggap strategi marketing.

 

Sementara pejabat yang hanya muncul tiga menit di rapat Zoom,

yang wajahnya kaku di spanduk dan baliho,

yang kerjaannya konferensi pers tanpa menyentuh tanah bencana,

langsung dipuji:

“Inilah pemimpin yang sistematis.”

 

Padahal yang dipuji itu hanya mampu bekerja di panggung,

tapi lumpuh ketika panggung itu hilang.

 

Ketika KDM turun ke Aceh?

“Cari sorotan kamera.”

 

Ketika ia mengangkat karung bantuan?

“Biar viral.”

 

Ketika ia duduk mendengar keluhan warga dengan sabar?

“Pancing simpati.”

 

Retorika kosong macam apa ini?

Apakah menyentuh rakyat kini harus minta izin para komentator?

 

Lalu pemimpin seperti apa yang kalian inginkan?

Pemimpin yang bangun pagi untuk memikirkan angle kamera?

Pemimpin yang tugas utama adalah membaca teks sambutan?

Pemimpin yang tidak terlihat di bencana, tetapi aktif mengomentari di media?

Pemimpin yang bicara tentang rakyat, tapi jarang menyentuh tangan rakyat?

 

KDM bukan hanya hadir

ia hadir secara fisik, mental, dan emosional.

 

Ia hadir di momen ketika banyak pejabat lain hanya hadir…

di grup WhatsApp.

 

Yang sebenarnya kalian benci bukan air matanya.

Kalian benci cermin besar yang ia bawa.

Cermin yang memperlihatkan betapa banyak politisi cuma pandai slogan,

tapi tak berani menjejak lumpur bencana.

 

Cermin yang menunjukkan bahwa ada pejabat lain yang sebenarnya bisa berbuat,

tapi lebih memilih berdiam diri supaya kemeja tidak kotor.

 

Cermin yang mengungkap siapa pekerja, dan siapa pemegang jabatan tanpa ruh pelayanan.

 

Dan jangan lupa, Presiden Prabowo sendiri dalam banyak kesempatan berkali-kali menegaskan:

“Dalam situasi bencana, tak ada waktu untuk debat. Yang dibutuhkan adalah kecepatan, aksi nyata, dan keberanian turun langsung.”

 

Pernyataan itu bukan sekadar instruksi teknis.

Itu adalah garis moral:

pemimpin diukur dari keberaniannya hadir, bukan dari keahliannya beralasan.

 

KDM memilih hadir.

Ia memilih memikul, bukan menunjuk.

Ia memilih mengulurkan tangan, bukan melipatnya sambil menilai.

 

Maka jika aksi nyata dianggap pencitraan,

biarkanlah pencitraan itu terus dilakukan

asal rakyat yang merasakan manfaatnya.

 

Jika air mata pemimpin dianggap rekayasa,

biarkanlah ia terus menangis

sebab barangkali itu satu-satunya air mata yang jujur

di tengah deretan pejabat yang hatinya sudah mengeras seperti papan nama kantornya.

 

Pada akhirnya, lebih baik pemimpin yang hadir meski disorot kamera,

daripada pemimpin yang hilang meski memegang kekuasaan.

 

Karena kamera bisa dimatikan.

Tapi keberanian hadir di tengah rakyat—itu tidak bisa dibuat-buat.

 

 

By Wira