KOTABARU, Mediakota-online.com
12 Juni 2026 – Kondisi Siring Pantai di Desa Tanjung Samalantakan, Kecamatan Pamukan Selatan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, hingga kini masih memprihatinkan. Hampir puluhan tahun dari tahun 2011 sampai sekarang Tahun 2026 setelah diterjang badai angin kencang dan gelombang pasang tinggi, tanggul penahan abrasi sepanjang kurang lebih dua kilometer tersebut belum juga mendapatkan penanganan serius.

Kerusakan yang terjadi tidak hanya mengakibatkan hancurnya siring pantai, tetapi juga menyebabkan abrasi yang semakin meluas. Daratan di sepanjang pesisir terus terkikis dan mengalami longsor akibat hantaman gelombang laut yang datang silih berganti.

Berdasarkan hasil peninjauan langsung awak media di lokasi, terlihat jelas kondisi siring yang porak-poranda. Beton penahan ombak pecah dan berserakan, sementara sebagian garis pantai mengalami penyusutan yang cukup signifikan. Beberapa titik bahkan menunjukkan tanda-tanda longsor yang mengancam permukiman warga.
Musibah yang terjadi beberapa bulan lalu juga mengakibatkan puluhan rumah warga mengalami kerusakan. Selain itu, titian dan sejumlah kapal nelayan yang sedang bertambat ikut rusak akibat kuatnya terjangan ombak.
Warga mengaku sempat panik saat bencana terjadi. Mereka menyebut angin ribut dan gelombang yang datang saat itu jauh lebih besar dibandingkan kondisi yang biasa mereka alami.
“Ketika kejadian, kami sangat ketakutan. Ombak sangat besar dan air laut naik dengan cepat. Siring yang selama ini menjadi pelindung kampung kami tidak mampu menahan terjangan gelombang,” ungkap salah seorang warga.
Menurut masyarakat setempat, hingga saat ini mereka masih hidup dalam kekhawatiran. Setiap kali cuaca buruk dan gelombang tinggi terjadi, warga takut abrasi akan semakin parah dan mengancam keselamatan rumah-rumah mereka.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Kotabaru segera turun tangan untuk melakukan perbaikan terhadap siring pantai yang rusak tersebut. Mereka menilai penanganan yang cepat sangat diperlukan mengingat potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Kalau dibiarkan terus, bukan hanya siring yang hilang, tetapi daratan dan permukiman warga juga terancam ikut lenyap digerus ombak. Saat ini saja, abrasi sudah menyebabkan daratan longsor hingga mencapai ratusan meter di beberapa titik,” kata warga.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena Siring Pantai Tanjung Samalantakan merupakan benteng utama yang melindungi kawasan permukiman dan aktivitas masyarakat pesisir dari ancaman gelombang laut.
Masyarakat berharap pemerintah daerah segera melakukan langkah konkret, mulai dari peninjauan lapangan, penetapan status penanganan darurat, hingga pengalokasian anggaran untuk pembangunan kembali tanggul penahan abrasi.
Jika tidak segera ditangani, kerusakan yang terjadi dikhawatirkan akan semakin meluas dan berpotensi mengancam keberlangsungan kehidupan masyarakat pesisir Desa Tanjung Samalantakan di masa mendatang.”(Hallion)
