• Sel. Des 9th, 2025

MEDIA KOTA Online

Sarana Informasi Rakyat

Tanah Bumbu – Mediakota-online.com

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Tanah Bumbu menggelar Tasyakuran, Doa Bersama, serta Dialog Interaktif sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden RI ke-4 sekaligus deklarator PKB, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan ulama besar Nusantara, Syaikhona Muhammad Kholil. Kegiatan berlangsung di Kantor DPC PKB Tanah Bumbu pada Kamis (14/11) sekitar pukul 14.00 Wita.

 

Acara tersebut dihadiri para tokoh dan petinggi PKB di daerah, termasuk Ustadz Hidayatullah, Ketua Fraksi PKB DPRD Tanah Bumbu Haris Fadilah, Anggota DPRD Tanah Bumbu H. Irin T, serta para pengurus, kader, dan simpatisan PKB. Suasana kebersamaan terasa hangat sejak kegiatan dimulai, memperlihatkan kuatnya keterikatan kader terhadap nilai-nilai perjuangan yang diwariskan Gus Dur dan para ulama pendiri tradisi keilmuan Nusantara.

 

Wakil Ketua I DPRD Tanah Bumbu dari PKB, H. Hasanuddin, dalam dialog interaktif menyampaikan bahwa sosok Gus Dur selalu menghadirkan cerita yang tidak hanya penuh hikmah, tetapi juga sarat nilai kemanusiaan.

 

“Banyak pelajaran dari Gus Dur,” ujarnya membuka dialog di hadapan para peserta. “Beliau itu dermawan, pemersatu bangsa, dan hatinya sangat luas. Siapa pun yang mengalami kesulitan, tanpa melihat latar belakang, selalu beliau bantu.”

 

Hasanuddin kemudian mengisahkan salah satu momen yang paling melekat dalam ingatannya di awal berdirinya PKB.

 

“Saya masih ingat, suatu hari ada seorang warga datang bercerita panjang mengenai kesulitan hidupnya,” tuturnya. “Selama hampir setengah jam, Gus Dur hanya mengangguk sambil tersenyum. Setelah selesai, beliau berkata kepada kami, ‘Kalian lihat, orang susah itu bukan minta teori. Mereka cuma ingin didengarkan.’ Pesan sederhana itu sangat dalam dan tak pernah saya lupakan.”

 

Ia juga membagikan cerita lain mengenai karakter humor Gus Dur yang terkenal mampu mencairkan suasana tegang.

 

“Tahun 1998, saat rapat PKB berlangsung panas, Gus Dur tiba-tiba berkata, ‘Kalau rapatnya panas, berarti AC-nya yang mati, bukan akalnya.’ Spontan semua tertawa,” kenangnya. “Begitulah beliau, selalu menenangkan, selalu menghadirkan kedamaian.”

 

Menurut Hasanuddin, keteladanan seperti itulah yang membuat sosok Gus Dur sangat dirindukan kader PKB di seluruh Indonesia.

 

“Beliau tidak pernah memaksa orang sama seperti dirinya. Baginya, perbedaan justru membuat Indonesia indah. Itu pesan yang selalu kami bawa sampai hari ini,” tegasnya.

 

Hasanuddin juga menyinggung perjalanan mereka bersama Gus Dur pada masa-masa awal pembentukan PKB.

 

“Kami bersama beliau sejak 1998–1999, masa-masa paling menentukan berdirinya PKB,” ujarnya. “Saat itu saya menjabat sebagai wakil ketua Garda Bangsa Kalsel. Gus Dur selalu menegaskan bahwa politik harus menjadi alat memperjuangkan keadilan, bukan tempat memperkaya diri. Itu prinsip yang saya pegang sampai hari ini.”

 

Ia menilai bahwa penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Gus Dur dan Syaikhona Kholil merupakan momentum penting untuk meneguhkan kembali nilai kebangsaan dan keilmuan yang telah mereka perjuangkan sepanjang hidup.

 

“Gus Dur adalah guru bangsa. Syaikhona Kholil adalah guru para kiai. Dua tokoh besar yang kontribusinya tak terhitung bagi Indonesia,” katanya. “Kami di PKB merasa bangga, terhormat, dan sekaligus terpanggil untuk melanjutkan nilai perjuangan mereka.”

 

Acara tasyakuran yang digelar DPC PKB Tanah Bumbu berlangsung hangat dan penuh makna. Selain berdoa bersama, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bagi para kader untuk memperkuat komitmen kebangsaan, memperdalam pemahaman nilai-nilai perjuangan tokoh bangsa, dan mengokohkan semangat persatuan yang diajarkan Gus Dur dan para ulama Nusantara, termasuk Syaikhona Kholil.

 

Dengan kegiatan ini, PKB Tanah Bumbu berharap semangat keteladanan dua tokoh besar tersebut menjadi inspirasi bagi generasi muda dan masyarakat luas dalam menjaga harmoni, memperjuangkan kemanusiaan, serta membangun Indonesia yang lebih baik di masa depan”.

(Hallion)

By Wira