• Ming. Mei 24th, 2026

MEDIA KOTA Online

Sarana Informasi Rakyat

TanBu – Mediakota-online.com Penutupan drainase utama di kawasan Jalan Kerateng, Jalan Insgub Kecamatan Simpang Empat, diduga menjadi penyebab utama banjir yang terus menghantui ratusan rumah warga setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Warga menilai tindakan penutupan saluran air yang diduga dilakukan secara sepihak oleh seorang oknum pemilik lahan berinisial H.TRE telah menimbulkan keresahan besar di tengah masyarakat.(23/5/2025)

Banjir yang sebelumnya jarang terjadi kini menjadi ancaman rutin bagi warga RT 11 dan RT 13 Jalan Insgub Rt 09 Jalan pesantren. Air meluap hingga masuk ke rumah-rumah warga karena aliran drainase tidak lagi mampu mengalirkan air menuju Sungai Batulicin sebagai jalur pembuangan utama.

Warga menyebut, drainase dengan ukuran sekitar dua  setengah meter tersebut merupakan saluran vital yang dibangun Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu menggunakan anggaran daerah yang tidak sedikit. Namun, saluran itu kini tertutup timbunan tanah oleh oknum berinisial H.TRE hingga rata, sehingga aliran air terputus total.

Salah seorang warga, Hairuddin, mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi tersebut. Ia meminta pemerintah daerah segera turun tangan sebelum dampak banjir semakin meluas dan merugikan masyarakat.

“Kami berharap pemerintah segera membuka kembali saluran air itu agar banjir tidak terus terjadi. Drainase ini saluran utama menuju Sungai Batulicin. Kalau memang ada persoalan lahan, seharusnya dibicarakan dengan pemerintah atau kelurahan, bukan langsung ditutup begitu saja,” ujarnya.

Menurut warga, persoalan ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Penutupan drainase disebut mulai terjadi sekitar tahun 2023. Sejak saat itu, setiap hujan deras turun, air dengan cepat meluap dan menggenangi permukiman warga.

Buni, warga lainnya, mengatakan masyarakat sudah melaporkan persoalan tersebut kepada pihak Kelurahan Kampung Baru. Bahkan lurah setempat disebut telah turun langsung ke lokasi untuk memantau kondisi drainase yang ditutup dan sekarang dranase tersebut di penuhi sampah dan tumbuhan liar seperti pohon rambai

Namun hingga kini, warga menilai belum ada langkah konkret untuk mengembalikan fungsi saluran air tersebut. Mereka khawatir jika kondisi ini terus dibiarkan, dampak banjir akan semakin parah dan berpotensi merusak rumah serta mengancam kesehatan masyarakat.

“Drainase itu jalur utama pembuangan air. Sekarang air tidak punya jalan menuju sungai karena sudah ditutup urukan tanah. Akibatnya, rumah warga yang jadi korban,” kata seorang warga.

Warga juga mempertanyakan tindakan penutupan drainase yang dinilai dilakukan tanpa musyawarah maupun koordinasi dengan pemerintah daerah. Mereka berharap pemerintah tidak hanya melakukan peninjauan lapangan, tetapi juga mengambil tindakan tegas demi melindungi kepentingan masyarakat luas

Penutupan drainase bukan hanya memicu banjir sesaat, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan sosial yang lebih besar. Genangan air yang terus terjadi dapat merusak infrastruktur jalan, mencemari lingkungan, hingga meningkatkan risiko penyakit seperti demam berdarah dan infeksi kulit.

Selain itu, aktivitas masyarakat ikut terganggu. Anak-anak kesulitan berangkat sekolah saat hujan deras, sementara sejumlah warga mengaku perabot rumah tangga mereka rusak akibat air yang terus masuk ke dalam rumah.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat mengenai pengawasan tata ruang dan perlindungan fasilitas umum. Sebab, drainase yang dibangun menggunakan anggaran pemerintah sejatinya merupakan fasilitas publik yang berfungsi untuk kepentingan bersama.

Warga kini berharap Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu bersama instansi terkait segera mengambil langkah cepat, mulai dari normalisasi saluran air, mediasi dengan pihak terkait, hingga penegakan aturan apabila ditemukan pelanggaran yang merugikan masyarakat.

Bagi warga di kawasan terdampak, satu hal yang paling mereka inginkan hanyalah saluran air kembali dibuka agar banjir tidak lagi menjadi mimpi buruk setiap musim hujan tiba.”(Hallion/Team)

By Wira