• Kam. Agu 6th, 2026

MEDIA KOTA Online

Sarana Informasi Rakyat

Tanah Bumbu, Mediakota-online.com

Di tepian dermaga Sungai Cuka, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, tampak dua nelayan sibuk menyiapkan tumpukan daun kelapa dan ranting kering di atas perahu kayu sederhana. Sementara itu, seorang lelaki tua dengan kulit legam karena matahari duduk di geladak, mengikat pelepah dengan tali nilon agar tak terurai saat terkena ombak.

“Perahu nanti kami bawa ke tengah laut,” tutur Basuki, nelayan yang telah lebih dari 30 tahun melaut di perairan Sungai Cuka. “Rumpun ini nanti diturunkan ke dasar laut dan dijangkar. Biasanya ikan cepat datang dan berkumpul di situ.”

 

Tradisi Ramah Lingkungan yang Terus Dijaga Apa yang disebut Basuki sebagai rumpun laut merupakan tradisi lama nelayan pesisir Tanah Bumbu. Rumpun laut dibuat dari bahan-bahan alami seperti daun kelapa, ranting, dan batang pohon yang diikat lalu ditenggelamkan di dasar laut. Fungsinya mirip rumah ikan atau terumbu buatan sederhana yang menjadi tempat berlindung dan berkembang biak bagi berbagai jenis ikan.

 

“Kalau bahan-bahannya mulai membusuk, justru ikan makin banyak datang,” kata Basuki sambil tersenyum. “Biasanya rumpun bisa bertahan sebulan. Tapi kalau ombak besar atau ada kapal lewat, kadang hilang juga.”

 

Namun, di tengah upaya menjaga keseimbangan ekosistem laut, para nelayan menghadapi tantangan serius. Rumpun laut yang mereka buat sering hilang terseret oleh kapal pukat luar daerah yang masuk tanpa izin dan beroperasi di sekitar perairan mereka.

 

“Sudah dijangkar kuat pun tetap bisa hilang,” keluh Basuki. “Kalau kapal besar lewat, jaringnya nyangkut, rumpun kami terangkat semua.”

Bertahan dengan Cara Tradisional

Setidaknya ada sekitar 60 kapal nelayan kecil yang beroperasi di wilayah Sungai Cuka. Mereka mengandalkan cara tangkap tradisional, seperti memancing atau menjaring ikan di sekitar rumpun laut, tanpa menggunakan alat berat atau bahan peledak.

 

“Kami di sini lebih suka memancing,” ujar Lashby, nelayan muda yang membantu Basuki menyiapkan pelepah. “Ikan yang sering naik itu kakap merah, kerapu, sama baronang. Kalau pakai pancing, laut tetap bersih, ikan juga tidak habis.”

Para nelayan sadar bahwa menjaga laut berarti menjaga sumber penghidupan mereka sendiri. Meski kehilangan rumpun laut bukan hal baru, semangat untuk terus melestarikan alam tidak pernah padam.

 

“Kalau hilang ya buat lagi,” kata Basuki saat ditemui Minggu (9/11). “Namanya juga hidup di laut, harus sabar. Yang penting laut tetap ada ikannya buat anak cucu nanti.”

 

Harapan Akan Perlindungan dan Dukungan Pemerintah

Tradisi membuat rumpun laut di Sungai Cuka sejatinya sejalan dengan konsep perikanan berkelanjutan yang kini banyak didorong oleh pemerintah.

 

Namun, tanpa perlindungan dari aktivitas kapal besar dan praktik penangkapan ikan yang merusak, usaha kecil para nelayan lokal seperti Basuki terancam punah.

Warga berharap pemerintah daerah dan aparat terkait dapat meningkatkan pengawasan laut, terutama terhadap kapal pukat luar yang sering melintas di perairan mereka.

 

“Kalau laut rusak, kami mau makan apa?” tanya Basuki lirih. “Laut ini bukan cuma tempat cari ikan, tapi juga rumah kami.”

 

Meski diterpa tantangan, para nelayan Sungai Cuka tetap berpegang pada tradisi dan harapan. Di tengah gelombang dan angin laut, mereka terus menjaga keseimbangan antara mencari nafkah dan melestarikan alam — sebuah perjuangan sunyi yang menjaga kehidupan di pesisir Tanah Bumbu tetap berdenyut.”(Hallion)

By Wira