• Jum. Mei 1st, 2026

MEDIA KOTA Online

Sarana Informasi Rakyat

Jakarta – mediakota-online.com

Nama Ira Puspadewi dalam beberapa tahun terakhir menjadi sorotan publik.

 

Bukan hanya karena kiprahnya sebagai salah satu perempuan yang memimpin perusahaan transportasi besar milik negara, tetapi juga karena keterlibatannya dalam kasus akuisisi PT Jembatan Nusantara (PT JN) yang menyeretnya ke meja hijau.

 

Namun jauh sebelum itu, Ira dikenal sebagai sosok profesional yang tumbuh dari dunia korporasi internasional dan membawa semangat transformasi ke BUMN.

 

Berikut profil lengkap perjalanan karier, rekam jejak, dan kontroversi yang melingkari mantan Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) tersebut.

 

Awal Kehidupan & Pendidikan

Lahir di Malang, Jawa Timur, Ira Puspadewi tumbuh sebagai sosok yang menekuni dunia manajemen sejak muda.

 

Ia meraih gelar sarjana dari Universitas Brawijaya, Malang, dengan fokus pada Manajemen Sosial Ekonomi Peternakan.

 

Keinginannya memperluas wawasan membawanya menempuh pendidikan internasional.

 

Ira menyelesaikan gelar Master of Development Management di Asian Institute of Management, Filipina.

 

Tidak berhenti di sana, ia meraih gelar doktor di bidang Manajemen Strategik dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.

 

Pendidikan yang berlapis inilah yang menjadi pondasi kuat dalam karier globalnya.

 

Karier Internasional: 17 Tahun di GAP Inc.

Sebelum kembali ke Indonesia, Ira menghabiskan 17 tahun berkarier di GAP Inc., perusahaan ritel besar asal Amerika Serikat.

 

Kariernya menanjak hingga mencapai posisi Director Global Initiative Regional Asia, membawahi tujuh negara sekaligus.

 

Di perusahaan raksasa tersebut, ia dikenal sebagai pemimpin dengan pendekatan strategis, berorientasi pelanggan, dan terbiasa mengelola tim multinasional.

 

Pengalaman itu kemudian menjadi modal besar ketika ia kembali ke Indonesia dan masuk ke sektor BUMN.

 

Kembali ke Tanah Air: Menakhodai Dua BUMN

Usai kembali dari karier globalnya, Ira langsung masuk ke lingkungan perusahaan negara.

 

Investasikan 15 Menit Sehari dan Dapatkan 16 Juta Sehari!

Pelajari Lebih

1. Direktur Utama PT Sarinah (Persero)

 

Di Sarinah, Ira mengawali langkah transformasi UMKM dan ritel nasional.

 

2. Direktur Ritel, Jaringan, & SDM PT Pos Indonesia

 

Ia kemudian dipercaya memperkuat jaringan operasional dan SDM di Pos Indonesia, salah satu BUMN tertua di Indonesia.

 

Kiprahnya di dua BUMN ini menonjol karena kemampuan membaca perubahan pasar ritel dan memadukannya dengan strategi modernisasi.

 

Baca Juga: Pantai Atuh Nusa Penida: Surga Tersembunyi dengan Gerbang Karang Ikonik, Bikin Pikiran Langsung Plong!

 

Menjadi Direktur Utama ASDP (2017–2023)

Pada 2017, Ira resmi menjabat Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, perusahaan pelayaran penyeberangan terbesar di Indonesia.

 

Di tangan Ira, ASDP masuk fase transformasi besar-besaran.

 

Transformasi Digital dan Sistem Cashless

 

Ira memperkenalkan sistem pembayaran non-tunai di sejumlah pelabuhan penyeberangan, sebuah langkah penting yang mengubah pengalaman pelanggan dan mendorong transparansi.

 

Penguatan Armada dan Layanan di Wilayah 3T

Ia mendorong pengembangan armada dan infrastruktur pelabuhan, termasuk memperluas layanan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

 

Kinerja Keuangan Membaik

 

Di masa kepemimpinannya, pendapatan dan laba ASDP tercatat mengalami tren peningkatan, dengan fokus pada penerapan tata kelola perusahaan yang baik (GCG).

 

Penghargaan Nasional

 

Pada 2022, Ira dianugerahi The Best Industry Marketing Champion – Transportation dalam ajang Marketeer of The Year.

 

Penghargaan ini diberikan atas inovasi transformasi ASDP dan kinerjanya dalam pengelolaan layanan publik.

 

Kontroversi: Kasus Akuisisi PT Jembatan Nusantara

Meski memiliki rekam jejak profesional yang panjang, perjalanan karier Ira memasuki babak kelam ketika ia ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus akuisisi PT JN.

 

Inti Kasus

 

Akuisisi PT JN dilakukan ASDP dengan nilai sekitar Rp1,27 triliun.

KPK menilai transaksi ini merugikan negara lebih dari Rp1 triliun.

Dalam dakwaan, pembelian kapal disebut tidak layak dan merugikan ASDP.

Pembelaan Ira

Dalam pembelaannya, Ira menegaskan bahwa:

 

Akuisisi dilakukan atas dasar strategi memperkuat armada,

Tidak ada keuntungan pribadi yang ia terima,

Perhitungan kerugian negara belum mengacu pada audit resmi,

Ia merasa justru “dijebak” dan diframing sebagai pelaku korupsi.

Ira juga menunjukkan gaya hidup sederhana sebagai bukti integritas, bahkan menyebut mobil yang dipakainya hanya keluaran 2012.

 

Putusan

Pengadilan memvonis Ira Puspadewi 4,5 tahun penjara dan denda Rp500 juta. Putusan ini menuai beragam reaksi, baik dari praktisi transportasi maupun kalangan hukum.

 

Sosok Pemimpin & Pengaruhnya

Terlepas dari kontroversi hukum yang membelitnya, banyak pihak menilai Ira sebagai figur yang membawa warna baru dalam tubuh BUMN.

 

Gaya kepemimpinannya yang tegas, berpikiran global, serta fokus pada inovasi menjadikannya salah satu perempuan yang menonjol di sektor transportasi nasional.

 

Kuliah umum yang ia berikan di berbagai kampus dan forum menunjukkan bagaimana ia melihat ASDP bukan sekadar perusahaan pelayaran, tetapi sebagai “pembangun peradaban” yang menghubungkan masyarakat dari Sabang hingga Merauke.

 

Kisah perjalanan Ira Puspadewi adalah potret kompleks seorang pemimpin modern: berprestasi dalam dunia korporasi global, memimpin transformasi dua BUMN besar, menghantarkan ASDP ke era digital, tetapi pada akhirnya terseret kasus hukum yang menjadi sorotan nasional.

 

Profil ini menunjukkan bahwa kiprah dan kontroversi dapat berjalan beriringan dalam kehidupan seorang tokoh publik.

 

Waktu yang akan menjawab apakah sejarah akan mengingat Ira sebagai inovator yang memodernisasi ASDP atau sebagai salah satu pihak yang terjerat dalam pusaran masalah akuisisi.

 

[Benn/Wira]

By Wira