Magelang – Media Kota
Kabupaten Magelang dikenal sebagai daerah wisata unggulan di Provinsi Jawa Tengah dengan ikon Candi Borobudur. Di balik popularitas pariwisata tersebut, Magelang juga menyimpan potensi agraria yang belum banyak terekspos, salah satunya kopi Windusari.

Meski memiliki kualitas dan potensi ekonomi yang menjanjikan, kopi Windusari masih belum dikenal luas akibat minimnya eksposur dan promosi. Ketertarikan terhadap kopi ini bermula dari perjalanan kami berempat, yaitu Zulva Aswimahendra, Muhamad Bilal Syafaat, Iqbal Pambagyo, dan Putra Pramana ke Desa Lebak, Kabupaten Magelang, yang awalnya bertujuan mendaki Gunung Andong.

Usai pendakian, mereka mendapati banyak pohon kopi yang tumbuh tinggi di sekitar permukiman warga. Menurut penjelasan Sur alias Kuncung, kopi di wilayah tersebut dibiarkan tumbuh secara alami. Ia juga menyarankan untuk mengenal lebih jauh kopi Magelang melalui usaha kopi skala kecil milik warga setempat.
Upaya pengenalan kopi Windusari ini turut didorong oleh Mas Wiwit, pemilik Kulina Coffee @kulinacoffee dan Kulina Coffee Roastery @kulina.coffee_rostery, yang terlibat langsung dalam pengembangan dan promosi kopi lokal agar mampu dikenal dan bersaing di tingkat yang lebih luas.
Dengan rasa penasaran yang tinggi kami berbincang banyak tentang kopi khas magelang di kulina coffee milik mas wiwit, disana banyak sekali informasi yang di ungkapkan oleh mas wiwit, salah satunya kopi windusari.
Ketertarikan kami dalam kopi windusari akhir nya memunculkan pertanyaan, mengapa kopi tersebut jarang sekali dipasaran, bahkan kami pun baru mendengar kopi tersebut?
“Kopi windusari belum muncul banyak dipasaran karena masih kalah dengan kopi-kopi wilayah temanggung, secara kualitas dan cita rasa juga kopi windusari tidak kalah enak” ujar mas wiwit.
Kegigihan Mas Wiwit menjadi salah satu faktor pendorong dalam upaya mengenalkan kopi-kopi khas Kabupaten Magelang, termasuk kopi Windusari. Perjalanan Mas Wiwit dalam mendalami dunia kopi tidak berlangsung singkat.
Selama bertahun-tahun, ia mempelajari karakter kopi, mulai dari proses hulu hingga hilir, bahkan melakukan proses roasting secara mandiri melalui Kulina Coffee Roastery guna menemukan cita rasa yang diinginkan.
Menurut Mas Wiwit, kopi Windusari memiliki potensi besar untuk mendorong peningkatan kesejahteraan petani apabila dikelola dan dijalankan secara bersama-sama. Ia menekankan pentingnya kerja sama antara pelaku usaha dan petani lokal sebagai kunci keberlanjutan kopi khas Magelang.
“Kalau kopi Windusari khas Magelang ini banyak peminatnya di luar sana, saya yakin mereka hidup, kita juga hidup,” ujar Mas Wiwit, menegaskan konsep mutualisme yang ingin ia terapkan.
Semangat dan konsistensi Mas Wiwit dalam mengembangkan kopi Windusari menjadi contoh bahwa kolaborasi berbasis saling menguntungkan dapat membuka peluang ekonomi baru. Upaya membantu petani sekaligus memperkuat identitas kopi lokal dinilai sebagai wujud nyata dari prinsip mutualisme yang berkelanjutan.
[Wira/Bilal]
